Kamis, 17 Mei 2018

Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama sebagai tembok penghalang radikalisme


Setiap orangtua selalu menginginkan hasil yang baik dalam perkembangan pendidikan buah hatinya. Bahkan tak tanggung-tanggung mereka mengeluarkan biaya yang bisa terbilang fantastis demi mencapai hasil yang dimaksud. Lantas apakah mereka tahu proses yang dilalui anaknya?

Terkadang kita menganggap jalan pintas lebih pantas, dan mengabaikan proses yang panjang. Walaupun kita sendiri sadar akan hal itu. Kisah mendiang Dita Supriarto (keluarga pelaku bom bunuh diri di Surabaya), yang dituturkan oleh Ahmad Faiz Zainuddin (adik kelas Dita saat SMA 25 tahun yang lalu) dalam akun Facebook menggambarkan betapa pentingnya suatu proses dalam dunia pendidikan.

Seperti yang diungkapkan Subanji (2013) bahwa efek dari suatu pendidikan akan dirasakan pada 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Itu artinya yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan sesungguhnya adalah bagaimana pendidik (dalam hal ini guru) mempersiapkan generasinya untuk kelak berada di tengah-tengah masyarakat luas.

Terintegrasinya Literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam kurikulum saat ini, seakan-akan menjadi kunci untuk gembok yang telah lama tertutup rapat setelah hilangnya Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Memang benar saat ini kita sedang menghadapi suatu gejolak yang sangat kuat pengaruhnya untuk memeca belah persatuan bangsa. Lalu mampukah kita membendungnya?

Berbicara soal pendidikan bukan saja menjadi urusan guru, tetapi lebih dari pada itu orangtua lah menjadi pelatak dasar pendidikan anak. Jika diilustrasikan, maka akan sama halnya seperti sebuah bangunan. Apabila fondasi yang didirikan seorang tukang bangunan tidak menyimpang dari gambar yang telah disketsakan, maka niscaya bangunan tersebut akan terlihat indah.

Kasus bullying dikalangan siswa, politik para elit yang mengorbankan masyarakat kecil, korupsi dikalangan para pejabat negara, aksi keji bom bunuh diri oleh para teroris, yang marak terjadi akhir-akhir ini menggambarkan kegagalan dunia pendidikan Indonesia saat ini.

Namun sayang dalam pelaksanaannya, justeru guru (di sekolah) selalu menjadi kambing hitam atas kegagalan proses pendidikan seorang anak. Banyak orangtua lantas tak percaya dengan pendidikan di sekolah dan lebih memilih untuk memberikan les tambahan di luar yang notabene hanya mengarah pada pengetahuan.

Kita cenderung mementingkan pengetahuan dibandingkan moral. Orang lebih dihargai karena kedudukan, titel, atau jabatan, walapun moralnya bisa terbilang jelek. Bahkan banyak jalan pintas segaja dihalalkan hanya demi menggapai penghargaan itu. Kini sudah saatnya kita sadar dan berbenah diri.

Nah disini saya tidak bermaksud untuk menyalahkan peran orangtua ataupun lembaga bimbingan belajar. Namun lebih dari pada itu, bagaimana membangun kerjasama yang lebih baik tanpa harus saling menyalahkan. Literasi dan PPK harus dimulai dari rumah sebagai fondasi pendidikan anak. Sekolah yang merupakan lembaga pendidikan tentunya harus lebih mengarah pada hal-hal yang berkaitan dengan "pendidikan" tanpa mengabaikan pengetahuan. Dan lembaga bimbingan belajar tentunya lebih fokus pada pengetahuan.

Jika semuanya telah bersinergi dengan tanpa mengabaikan campur tangan masyarakat luas dan pemerintah, maka akan berjalan mulus sesuai impian kita bersama yaitu, mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter. @hyrolado

0 komentar:

Posting Komentar