Selasa, 13 Februari 2018

Kesempatan yang kedua: suatu kisah inspirasi


Melihat kenyataan pahit kehidupannya saat itu (tahun 2011 silam), membuatku tersentuh dan ingin melakukan sesuatu. Tetapi aku tahu hal itu tidak mudah dan butuh proses, gumamku. Sementara aku hanya seorang pendatang baru (dimutasi), walaupun aku pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka dimasa kecil dulu.

Herman Yoseph, itu namanya. Seorang pemuda pedalaman ilowutung yang dipaksa melanjutkan pendidikan untuk memenuhi syarat dibukanya suatu sekolah baru (minimal 10 siswa). Sementara adik bungsunya saat itu sudah duduk di kelas X salah satu SMA di ibu kota kabupaten Lembata.

Ya, SMPN Satap Ilowutung. Itulah nama sekolah yang dibangun pemerintah pada pertengahan tahun 2007 lalu, sebagai wujud pendekatan pelayanan. Herman sendiri bersama si sulung (kakaknya) menjadi bagian dari pembangunan sekolah tersebut (buruh bangunan).

Kehidupan yang jauh dari keramaian dan kebisingan kota, memaksakan mereka hanya berpasrah pada keadaan. Untung orangtuaku ikut pindah waktu itu. Jika tidak mungkin aku pasti mengalami nasib yang sama seperti mereka, bisikku dalam hati.

Hukum Adat
Memiliki postur tubuh yang besar, membuat Herman sulit diatasi guru-gurunya. Memang sudah kurang lebih lima tahun menjadi gelandangan di kampung setelah tamat sekolah dasar. Ia juga sering terlibat dalam kasus-kasus perkelahian antar kampung.

Dua kali terlibat kasus pemukulan guru, dan jauh dari sentuhan hukum menjadikan dirinya seolah-olah raja di antara yang lainnya termasuk para guru. Walaupun tidak sampai babak belur ke-2 orang guru yang menjadi sasarannya dalam waktu berbeda, tetapi tetap saja ia dipandang sebagai siswa yang bandel.

Para guru tidak mampu berbuat apa-apa, walaupun hanya sekedar skors sebagai konsekuensi atas tindakan Herman. Lantas hukuman apa yang diberikan pihak sekolah untuk si Herman, sementara kejadiannya di luar jam sekolah?. Ya, hanya hukum adat jawabannya. Ia diadili secara adat oleh para tetua kampung melibatkan pemeritah desa dan tokoh pendidik.

Sebagai pihak yang salah maka Herman bersama keluarga diwajibkan memberikan sejumlah barang adat sebagai denda atas perbuatannya. Mungkin terdengar asing untuk proses penyelesaiannya di era modern seperti ini, tetapi itu kenyataan sebagai kampung yang masih jauh dari sentuhan hukum.

Kalau bukan sekarang kapan lagi? 
Mendengar kisah-kisahnya, juga pernah diundang menghadiri proses penyelesaian salah satu kasus si Herman, membuat diriku tertarik untuk mencoba memberikan solusi demi masa depannya lebih baik.

Sebagai guru di sekolah, Herman ku memperlakukan layak seperti teman-teman yang lain. Namun sebaliknya saat di lingkungan rumah, ia ku jadikan teman. Seperti kata pepatah 'mengembek lah seperti kambing saat kamu berada dalam kandang kambing'. Itu lah yang ku lakukan.

Hampir setiap malam aku bertamu ke rumahnya. Kebetulan ayah Herman seorang penyadap tuak (aren) yang handal. Aku pun turut dalam pergaulan anak-anak muda yang juga adalah sahabat-sahabat Herman di kampung. Jago dalam voley ball, membuat Herman memiliki banyak teman

Tak jarang, aku pun sering mabuk-mabukan bersama mereka. Ya, hal itu terjadi karena budaya nya memang demikian. Yang disuguhkan kepada seorang tamu bukan kopi, teh, atau pun minuman segar lainnya, selain tuak, atau arak. Sebagai orang berpendidikan, tentunya itu keliru. Maka tak jarang namaku menjadi sorotan masyarakat setempat bahkan di kalangan guru. Hingga lintas kecamatan.

Al hasil, aku mendapatkan tempat di hati mereka. Sehingga momen-momen itu pun, dimanfaatkan untuk meberikan pandangan bahkan tak jarang memberikan nasehat. Ternyata usaha ku membuahkan hasil yang menurut ku sudah maksimal. Namun sayang rutinitas mabuk-mabukan sepertinya menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Niat dan tantangan
Sepanjang pergaulan kami, aku tak pernah menyangka jika si Herman bahkan punya niat untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, mengingat faktor usia. Yang lebih mengherankan lagi, ia ingin melanjutkan ke SMA seminari (sekolah menjadi imam katolik).

Hal itu, diutarakan di hadapan orangtu dan juga kepala sekolah yang turut diundang dalam jamuan makan malam yang disediakan orangtuanya beberapa waktu sebelum Ujian Nasional. Aku yang sudah dianggap sebagai kakak dan juga saudara, dimintai pendapat. Sontak diriku gembira, namun sepertinya belum yakin dengan niatnya ini.

Tanggapan pun datang dari berbagai pihak, lantaran sikap si Herman yang dianggap tak layak mengenyam pendidikan di sana. Berita ini bahkan sudah tiba ke pastor paroki sebagai pemimpin iman umat di wilayahnya.

Benar saja ketika aku diminta Herman dan orangtuanya untuk mendampinginya dalam proses permohonan izin ke paroki. Saat Herman diminta menyebutkan nama, sang pastor pun diam tak melanjutkan tulisannya. Ia menurunkan kacamatanya, memandang Herman dengan cermat. Memang selama ini, hanya namanya yang terdengar tanpa melihat orangnya.

Herman tertunduk malu. Sang pastor pun bertanya, 'apakah benar, kamu pelaku kasus pemukulan guru?'. Dengan segan ia menjawab, ya. Sang pastor lantas tegas dalam pernyataannya, 'kamu tidak layak!'. Seperti disambar petir, wajahku langsung memerah. Sang pastor pun mengalihkan perhatiannya ke aku, ketika tanpa disadari keluar sebuah kalimat dari mulutku. 'Tetapi paling tidak ia diberikan kesempatan. Mungkin di sana, ia lebih baik'.

'Kamu siapanya Herman?', tanya sang pastor. 'Aku kakaknya', jawabku simpel. Lantas pastor melanjutkan pertanyaan, 'apakah kamu bersedia bertanggung jawab, jika kelak terjadi kasus serupa di sana?'. Tanpa berpikir panjang, aku menyatakan kesediaanku demi si Herman.

Pastor pun melanjutkan surat permohonan izin tersebut, dengan menyertai kasus yang pernah dilakukan Herman. Sementara aku diminta untuk membuat surat pernyataan sikap, atas apa yang telah disepakati bersama.

Hari-hari terus berlalu, dan banyak di antara mereka (siswa) yang melamar ke SMA Seminari tak mampu melewatinya dan terpaksa kembali. Namun tanpa disadari, 7 tahun sudah si Herman yang kini lebih akrab disapa Frater Herman (panggilan bagi seorang calon imam katolik) sedang menjalani pendidikan di Seminari Tinggi (setingkat perguruan tinggi). Ia selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi keluarga kecilku, jika liburan tiba.

Harapanku, kisah ini dapat dibaca sang Frater. Dan semoga panggilan suci ini, mampu dijawabinya. @hyro

0 komentar:

Posting Komentar