Selasa, 18 Agustus 2015

Nasionalisme Ala "Orang Kampung"


APEL HUT KEMERDEKAAN RI KE-70

Dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI yang ke-70 tingkat desa Lamalela dihadiri oleh barisan siswa/i SDI Ilowutung, barisan siswa/i SMPN Satap Ilewutung, barisan Linmas, Masyarkat, dan juga Undangan.

Bertindak selaku komandan upacara saat itu adalah Gaspar Laga yang juga merupakan guru olahraga SMPN Satap Ilewutung, inspektur upacara adalah kepala desa Lamalela, bapak Paskalis Lili Lengari. Paskibraka masih yang sama dibawah pimpinan saudara Ako yang telah mensukseskan HUT pramuka ke-54 gugus Paehati di Hidalabi desa Banitobo.

Sebagai penutup sambutan Bupati Lembata dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI KE-70 yang dibacakan di seluruh desa se kabupaten Lembata, sebuah kutipan dari St. Jhon "orang-orang sukses mencintai pekerjaan mereka; .... mereka terus mengembangkan diri ... dan mereka tahan banting menghadapi waktu, kegagalan, dan kemalangan"

Selain membacakan sambutan tersebut, Paskalis Lili Lengari selaku inspektur upacara menyampaikan beberapa hal strategis berkaitan tema kemerdekaan "ayo kerja". Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat agar melaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab antara lain: 1) penetapan dan penegasan batas desa, 2) pembangunan posyandu, dan 3) rabat jalan. 

Selanjutnya ia mengharapkan setiap warga mulai dari, aparat desa, para guru, dan warga masyarakat secara keseluruhan untuk mengisi kemerdekaan dengan caranya sendiri-sendiri dengan tulus ikhlas. Sebab kita bukan berjuang untuk kemerdekaan ini tetapi hanya mengisi kemerdekaan. Sebagai desa yang menyandang status wilayah terpencil, terisolir, dan terpinggirkan (3T) maka mari kita membangun desa ini dengan "hug'e tou-mat'ge tou" yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya "satu hati-satu pikiran"


SEMANGAT NASIONALISME ALA "ORANG KAMPUNG"

Semangat nasionalisme masyarakat desa Lamalela sangat luar biasa walaupun terbilang masih jauh dari kemajuan baik sumber daya manusianya juga pembangunan. Hal ini terlihat saat dikumandangkan pekik kemerdekaan oleh inspektur upacara diikuti seluruh peserta "merdeka...merdeka....merdeka". Begitu pekikan dan semangat semangatnya balasan dari para hadirin dalam upacara tersebut.

Suatu budaya dalam menyambut hari raya keagamaan, hari raya kebangsaan, dan juga hari-hari raya lainnya, selalu didahului dengan berburu bersama oleh para kaum adam (bapak-bapak dan juga pemuda) dalam desa. Ada bagian tertentu dari hasil buruannya akan dikumpulkan pada panitia penyelenggara sebagai lauk pada hari H. 

Selain kegiatan olahraga tradisonal seperti: engran, balap karung, gangsing, dll, turut mewarnai kegiatan ini tos kenegaraan yang di wakili beberapa aparat desa, toko adat, dan tokoh masyarakat. Sebagai penutup dalam setiap kebersamaan, selalu di akhiri dengan makan dan minum bersama (makanan lokal) yang disediakan oleh masyarakat setempat.



HARAPAN KEMERDEKAAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 5 pulau besar dan ribuan pulau kecil. Walaupun telah merdeka sejak 70 tahun yang lalu, tetapi pembangunan untuk daerah pelosok memang masih jauh dari sentuhan pemerintah.

Seperti yang disampaikan
bapak Rafael Kupang selaku pemangku adat suku lengari yang juga salah satu staf pengajar SMPN Satap Ilewutung. Terkesan penduduk setempat masih kaku dengan adat istiadat yang tidak seharusnya dipertahankan. Pola pikir masyarakat kita memang perlu diubah misalnya, kekayaan keluarga atau hal lain yang lebih dimanfaatkan untuk kepentingan urusan adat dibanding pendidikan anak. 

Sebab tujuannya untuk merubah wajah desa yang lebih baik dari sekarang. Hal itu dapat terwujud ketika setiap orang memperoleh pendidikan yang layak. Lebih lanjut ia menyatakan "ketika orang berpendidikan, tradisi termasuk sejarah tidak hanya diceritakan saja tetapi dituangkan dalam bentuk tulisan, dengan tetap menghargai tradisi yang telah diwarisi nenek moyang kita"

Sementara bapak Melky Toran, selaku Kepala SMPN Satap Ilewutung dalam kaitan dengan HUT RI KE-70 mengharapkan dukungan dari pemerintah baik dari pusat hingga tingkat desa dalam menyukseskan pendidikan di wilayah terpencil sebagai wujud dari program pendidikan, penuntasan wajib belajar 9 tahun dengan hadirnya lembaga pendidikan SMP di desa Lamalela. Selanjutnya ia mengharapkan agar anak yang tamat dari SD langsung melanjutkan di SMP tanpa harus keluar dari kampung (mencari sekolah yang lain)

Mewakili masyarakat secara keseluruhan, bapak Thomas Pira mengharapkan pada pemerintah pusat dan daerah agar memperhatikan harga komoditi seperti kemiri, biji mete, dan kopra sebagai tumpuan hidup masyarakat setempat. Sebab komoditi merupakan satu-satunya tumpuan masyarakat untuk menunjang ekonomi dalam keluarga termasuk di dalamnya pendidikan anak seperti yang disampaikan bapak Rafael Kupang.

0 komentar:

Posting Komentar